Pages

Teori dan Konsep Ilmu Antropologi

Thursday, 23 May 2013



A.    Evolusionis

Dalam rangka agar disiplin ilmu antropologi bisa diakui sebagai salah satu ilmu pengetahuan, antropologi harus mempunyai teori, konsep dan metode seperti yang dikembangkan oleh ilmu pengetahuan alam dalam mengkaji masyarakat manusia. Oleh karena itu, dalam perkembangannya disiplin ilmu antropologi meminjam teori evolusi yang dikembangkan oleh disiplin ilmu biologi, yaitu dari pemikiran evolusionis Charles Darwin.
Menurut Darwin, semua bentuk kehidupan dan jenis-jenis makhluk hidup yang ada di muka bumi ini mengalami proses evolusi. Berkembang sangat lambat dari bentuk-bentuk yang sangat sederhana (makhluk hidup satu sel) menjadi beberapa jenis makhluk hidup baru yang lebih kompleks. Selain Darwin, tokoh lainnya yang berbicara tentang proses evolusi adalah A.Wallace, yang lebih menitikberatkan pada seleksi alam. Menurut Wallace, proses seleksi alam menentukan bentuk-bentuk fisik makhluk hidup yang ada pada saat ini dalam menjalani proses evolusi mereka.
Kedua pemikiran ini, proses evolusi dan seleksi alam, banyak mempengaruhi perkembangan teori dalam disiplin ilmu antropologi. Teori evolusi yang ada dalam disiplin ilmu biologi ini, selain diterapkan untuk menjelaskan evolusi biologi yang terjadi pada manusia, juga untuk mendeskripsikan dan menganalisis proses-proses evolusi sosial-budaya yang terjadi. Demikian halnya dengan teori seleksi alam, yang juga untuk menjelaskan bahwa mereka yang masih survive adalah manusia yang kuat karena berhasil melewati proses seleksi alam yang terjadi.
Perkembangan selanjutnya adalah munculnya teori evolusi sosial-budaya universal, di mana dalam rangka mengkaji kehidupan masyarakat manusia harus dipandang bahwa semua hal tersebut mengalami proses perkembangan yang sangat lambat (berevolusi) dari tingkat yang rendah dan sederhana menuju ke tingkat yang makin lama makin tinggi dan kompleks. Proses evolusi seperti itu akan dialami oleh semua masyarakat manusia di manapun di muka bumi ini.

1.      Evolusi Biologi
Proses evolusi menurut disiplin ilmu biologi, terjadi melalui mutasi sehingga menghasilkan variasi keturunan. Hal ini terjadi karena masuknya gen baru dari populasi lain dan akibat dari pengaruh faktor seleksi alam. Berdasarkan hal di atas, maka untuk memahami bagaimana proses evolusi itu terjadi, kita harus sedikit banyak mengetahui tentang mekanisme reproduksi terutama kaitannya terhadap persoalan keturunan.

2.      Evolusi Manusia
Pemikiran evolusionis banyak dikembangkan dalam antropologi fisik (salah satu cabang atau spesialisasi dari antropologi). Melalui penemuan fosil dan peralatan para ahli antropologi fisik berupaya untuk merekonstruksi proses evolusi manusia.

3.      Evolusi Sosial - Budaya
Ide atau pemikiran evolusionisme juga digunakan untuk menjelaskan proses perkembangan atau kemajuan sejarah dari sistem sosial-budaya yang paling sederhana sampai ke sistem sosial-budaya yang lebih kompleks. Salah satu tokoh atau ahli yang menerapkan teori evolusionisme tersebut adalah Herbert Spencer. Dalam hal ini, Spencer memandang bahwa kebudayaan merupakan superorganis.
Pendekatan yang dikembangkan oleh Spencer disebut sebagai “Darwinisme Sosial”. Proposisi pertama Spencer adalah bahwa masyarakat, seperti halnya organisme, merupakan keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian yang terintegrasi secara fungsional dan mengalami pertumbuhan, kemunduran, diferensiasi dan integrasi. Proposisi Spencer yang kedua dihubungkan dengan konsep individualisme laissez-faire Victorian yang mengandung aplikasi dari prinsip seleksi alam pada manusia dalam masyarakat. Bagi mereka yang lemah, miskin dan kurang mampu dianggap sebagai un-fit atau tidak cocok; dan mereka yang termasuk kategori ini harus diijinkan untuk habis (musnah) sama sekali agar dapat menciptakan kemajuan yang alami dalam masyarakat di masa berikutnya/mendatang.
Salah satu penganut evolusionis yang paling berpengaruh pada abad 19 adalah LH. Morgan. Morgan pada tahun 1877 membagi savagery dan barbarism masing-masing ke dalam 3 tahap yaitu bawah – tengah – dan atas. Setiap tahap dibedakan oleh suatu perkembangan teknologi. Sementara itu Tylor dan Frazer memusatkan perhatian pada evolusi religi dan memandang kemajuan masyarakat/budaya dari sudut pandang evolusi psikologis atau sistem mental. Sedangkan ahli teori sosial lainnya seperti Maine, Mc Lennan dan JJ.Bachofen, juga mengajukan skema berbeda mengenai perkembangan masyarakat, religi, kekerabatan atau pranata hukum.
Skema-skema evolusionis pada perkembangan awal ini mengacu pada evolusionis unilineal yang dikarenakan argumen mereka lebih ke arah kategorisasi untuk sepanjang satu rangkaian tahapan perkembangan, yang mereka asumsikan bahwa semua kelompok manusia akan maju meskipun dengan angka/percepatan yang tidak rata atau sama.

4.      Evolusi Multi-Linear
Ketika dihadapkan dengan bahan-bahan etnografi yang ada, pada kasus-kasus tertentu ternyata pemikiran evolusionis unililear tidak berlaku universal. Kesulitan-kesulitan tersebut di atas inilah yang mendorong munculnya pemikiran evolusionis multilinear. Julian H. Steward adalah tokoh yang dikenal sebagai pendiri evolusionis multilinear.
Steward memperhatikan garis-garis spesifik perkembangan dalam masyarakat atau kelompok masyarakat yang secara spesifik memiliki bersama apa yang sebutnya sebagai inti kebudayaan. Inti kebudayaan yang dimaksud adalah konstelasi ciri-ciri yang meliputi pola-pola sosial, politik dan agama yang saling terkait satu sama lain secara erat– yang paling terikat dengan kegiatan subsistensi dan tatanan ekonomi. Atas dasar inilah Steward berpendapat bahwa bagi kebudayaan yang memiliki inti kebudayaan yang kurang lebih sama akan berevolusi mengikuti suatu rangkaian evolusi yang sama, meski berbeda dalam detail spesifiknya. Dalam menjelaskan evolusi pertumbuhan masyarakat, Steward mengusulkan tiga prosedur dalam ekologi kebudayaan, yaitu :

1.      hubungan antara teknologi suatu kebudayaan terhadap lingkungannya
2.      pola perilaku yang berkaitan dengan teknologi dalam sebuah kebudayaan
3.      hubungan antara pola perilaku dengan unsur-unsur kebudayaan lainnya.

Sementara itu, pendekatan yang agak berbeda tapi juga multilinear dan ekologis adalah pemikiran yang dikembangkan oleh George Peter Murdock. G.P. Murdock membangun Cross-Cultural Survey, dan kemudian Human Relations Area Files, untuk memungkinkan para peneliti bisa membangun korelasi distribusi unsur-unsur kebudayaan dan menjelaskan pencetus historis secara umum atas daerah-daerah kebudayaan tertentu atau tipe-tipe kebudayaan yang sama.

B.     Difusi
Difusi adalah  proses penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari kebudayaan yang satu ke kebudayaan yang lain. kaum difusionis berusaha menjelaskan bahwa gejala-gejala persamaan unsur-unsur kebudayaan di berbagai tempat di dunia tersebut disebabkan karena adanya persebaran dari unsur-unsur itu ke berbagai tempat. Para ahli yang bisa dikategorikan sebagai difusionis antara lain seperti F.Graebner, W. Schmidt, WHR Rivers dan F. Boas.

C.    Fungsionalisme
para tokoh antropologi kemudian mengembangkan konsep masyarakat sebagai sebuah sistem yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berkaitan satu sama lain. Suatu sistem terbentuk dari bagian-bagian atau seperangkat komponen yang saling berkaitan satu sama lain sedemikian rupa sehingga sifat-sifat dari keseluruhan sistem tersebut berbeda dari unsur-unsur/bagian-bagian yang membentuknya.

1.      Fungsionalisme Bronislaw Malinoswki
Dia menyimpulkan bahwa setiap unsur kebudayaan mempunyai fungsi sosial terhadap unsur-unsur kebudayaan lainnya. Dengan demikian, kebudayaan mempunyai fungsi sosial yaitu sebagai alat untuk pemenuhan kebutuhan manusia sebagai pendukung kebudayaan yang bersangkutan. Dalam tulisannya “Argonauts of the Western Pasific” (1922), Malinowski mengatakan bahwa pertukaran dalam sistem perdagangan 'kula' (sistem kula) menggambarkan adanya hubungan antara kegiatan pertukaran tersebut dengan unsur-unsur kebudayaan lainnya secara fungsional.

D.    Struktural-Fungsionalme
Pemikiran struktural-fungsionalisme memandang masyarakat sebagai suatu sistem dari struktur-struktur sosial yang ada dalam masyarakat tersebut. Dalam hal ini, struktur yang dimaksud adalah pola-pola nyata dari hubungan antarkomponen yang ada dalam masyarakat, yang relatif bertahan lama. Jadi, masyarakat secara keseluruhan bisa dipandang sebagai sebuah struktur besar yang menaungi berbagai struktur-struktur yang lebih kecil yang ada dalam masyarakat tersebut, di mana struktur yang satu saling berhubungan dengan struktur yang lainnya.
Pemikiran struktural-fungsional memandang individu selalu menempati suatu status sosial dalam berbagai struktur sosial yang ada dalam masyarakatnya (individu umumnya memiliki lebih dari satu status sosial). Individu yang menempati suatu status sosial tertentu memiliki hak-hak dan kewajiban yang tertentu pula sesuai dengan status sosial yang disandangnya. Hak-hak dan kewajiban yang melekat pada status sosial inilah yang menentukan peran seseorang di dalam masyarakatnya.

1.      Strukturalisme Radcliffe-Brown
Struktur sosial, menurut Radcliffe Brown adalah keseluruhan dari jaringan hubungan antar person dan antar kelompok-kelompok person. Dia secara tegas membedakan individu dengan person. Person digunakan untuk menyebut individu yang dikaitkan dengan status sosial dan peran yang melekat pada individu yang bersangkutan. Menurut Brown, bentuk dari struktur sosial adalah relatif tetap/stabil, dan kalau pun harus berubah biasanya proses perubahannya relatif sangat lamban. Sedangkan person-person atau kelompok-kelompok person yang ada di dalam struktur sosial tersebut selalu berubah atau berganti.
Evans-Pritchard berpendapat bahwa sistem sosial suatu masyarakat adalah sistem moral, dan bukan sebagai suatu gejala alam seperti yang dikemukakan oleh Radcliffe-Brown. Di sini tugas seorang antropolog adalah merekonstriksi struktur sosial suatu masyarakat yang dipelajarinya. Sedangkan Mayer Fortes memasukkan dimensi waktu. Menurut Fortes, jaringan hubungan antarbagian dari suatu masyarakat berlaku dalam jangka waktu tertentu. Berbeda dengan Radcliffe-Brown, Fortes berpendapat bahwa, struktur sosial itu selalu berubah, baik dalam bentuk maupun dalam wujudnya yang nyata (realitas). Sementara itu, Raymond Firth, seperti halnya dengan Radcliffe-Brown berpendapat bahwa struktur sosial dan fungsi sosial tidak bisa dipisahkan dari konsep organisasi sosial.

2.      Strukturalisme Levi Strauss
Sumbangan yang paling dikenal dari Levi-Strauss dalam pemikiran strukturalisme adalah pemikirannya atau teori oposisi binar nya. Menurut dia, logika elementer (yang paling mendasar) dari manusia adalah mengklasifikasikan alam semesta dan masyarakatnya ke dalam berbagai kategori mendasar, dan, yang paling mendasar adalah membagi ke dalam dua golongan berdasarkan ciri-ciri yang saling bertentangan, yang dikenal dengan oposisi binar atau oposisi berpasanganLevi-Strauss berpendapat bahwa struktur itu keberadaannya ada di dalam pikiran/akal manusia, dan interaksi sosial dilihatnya sebagai manifestasi/perwujudan dari struktur kognitif manusia (oposisi binar/berpasangan).

3.      Analisa Situasional: Pendekatan Jaringan Sosial
Seorang manusia dalam mewujudkan tindakannya selalu berada di dalam lingkungan saling keterhubungannya dengan manusia-manusia lain yang ada di sekitarnya. Oleh karenanya Mitchell mengusulkan bahwa image jaringan seharusnya ditanamkan ke dalam benak para ahli antropologi sewaktu akan mempelajari kehidupan masyarakat kompleks. Begitu pula Bott dan Barnes juga  menunjukkan bahwa jaringan-jaringan sosial dapat digunakan untuk menginterpretasi perilaku di dalam berbagai variasi situasi sosial yang luas, dan tidak terbatas hanya pada studi peran-peran conjugal.
Bila ditinjau dari tujuan hubungan sosial yang membentuk jaringan-jaringan sosial yang ada dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi 3 jenis jaringan sosial, yaitu:

1. jaringan interest (jaringan kepentingan), di mana hubungan-hubungan sosial yang membentuknya adalah hubungan-hubungan sosial yang bermuatan kepentingan
2. jaringan sentiment (jaringan emosi), yang terbentuk atas dasar hubungan-hubungan sosial yang bermuatan emosi
3. jaringan power, di mana hubungan-hubungan sosial yang membentuknya adalah hubungan-hubungan sosial yang bermuatan power.

Masing-masing jenis/tipe jaringan sosial tersebut memiliki logika situasional yang berbeda satu sama lain.

(Dirangkum dari BMP ISIP4210 Pengantar Antropologi, Modul 2 dan 3)

No comments:

Post a Comment